Tampilkan postingan dengan label Penyakit Pada Anjing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Pada Anjing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

Hepatitis Menular pada Anjing

Hepatitis menular pada anjing telah tersebar luas di dunia, dengan gejala beragam dari yang ringan berupa demam dan pembendungan membrane mukosa sampai bentuk parah, depresi, leukopenia yang jelas dan bertambah lamanya waktu beku darah.

Penyebab
Infectious Canine Hepatitis disebabkan oleh virus Canine Adeno Virus-1 (CAV-1). Virus ini termasuk virus DNA, tidak beramplop dan secara antigenic berkerabat dengan CAV-2 penyebab tracheobronchitis menular pada anjing.

Gejala klinis
Hepatitis menular gejalanya beragam dari demam ringan sampai mematikan. Masa inkubasi 4-9 hari. Gejala berupa demam diatas 40 °C dan berlangsung 1-6 hari, biasanya bersifat bifasik, terjadi takikardia dan leukopenia.

Gejala lainnya berupa apatis, anoreksia, kehausan, konjungtivitis, leleran serous dari hidung dan mata, kadang-kadang disertai nyeri lambung, muntah juga dapat terjadi serta ditemukan oedema subkutan daerah kepala, leher dan dada.

Koagulasi intravaskuler (dissiminated) umum terjadi dan merupakan suatu yang penting dalam patogenesa penyakit. Gejala respirasi biasanya tidak tampak pada anjing yang menderita ICH.

Pada anjing yang pulih, biasanya makan dengan baik namun pertumbuhan badan berjalan lambat. Tujuh sampai sepuluh hari setelah gejala akut mulai hilang, sekitar 25% anjing yang pulih akan mengalami kekeruhan (opasitas) kornea dan bisa hilang secara spontan.

Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan kejadian perdarahan mendadak dan bertambah lamanya waktu beku darah. Diagnosa dipastikan dengan isolasi virus, immonoflourescens atau ditemukan badan-badan inklusi yang khas di dalam sel-sel hati.

Pencegahan dan pengobatan
Transfusi darah mungkin diperlukan pada anjing yang menderita parah, disamping tambahan dekstrosa 5% dalam larutan garam isotonik hendaknya diberikan secara intravena. Pada anjiing yang waktu beku drahnya lambat, pemberian cairan subkutan sangat berbahaya.

Antibiotik spektrum luas dapat diberikan seperti tetrasiklin selama perkembangan gigi (fetus menjelang kelahiran, baru lahir, tahap awal kelahiran) bisa menyebabkan perubahan warna gigi dan sebaiknya obat ini tidak diberikan pada anjing sebelum gigi tetapnya tumbuh.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan vaksinasi dan pemberian vaksin sering dikombinasi dengan vaksin lainnya. Imunisasi terhadap ICH disarankan dilakukan pada saat melakukan imunisasi terhadap distemper anjing.


Selasa, 05 Juni 2018

Infeksi Virus Herpes pada Anjing


Dalam memelihara anjing, seringkali induk anjing yang beranak tetapi anak yang lahir mati. Disitu kita merasa sedih karena sudah merawat induknya ketika bunting dengan memberikan makanan yang baik dan sehat, tetap memperhatikan kesehatan induk anjing termasuk kesehatan kandangnya. Nah apabila terjadi hal demikian kira-kira apa ya penyebabnya ?, kenapa anak anjing yang baru lahir tiba-tiba mati ?. 



Kejadian seperti itu bisa disebabkan oleh penyakit atau infeksi pada anak anjing yang baru lahir tersebut yang disebabkan oleh virus yaitu virus herpes. Seperti apa penyakit tersebut ?, yuuk ikuti penjelansannya di bawah ini.


Salah satu Penyakit yang menyebabkan kematian yang tinggi pada anak anjing yang baru lahir adalah infeksi yang disebabkan oleh virus herpes. Penyakit ini dikenal juga dengan nama Neonatal canine herpesvirus infection dan Fading puppy syndrome. 


Pada anjing dewasa virus menyebabkan infeksi laten. Agen penyebab untuk pertama kali diisolasi di USA dalam tahun 1965 dari anak anjing baru lahir dan mati. Sesudah itu virus ditemukan di banyak negara eropa.


Penyebab
Hingga sekarang hanya dikenal satu virus herpes pada anjing yang dinamakan canine herpesvirus (CHV) yang termasuk herpesvirus golongan A. CHV bereplikasi dalam biakan sel anjing, menimbulkan CPE dan membentuk badan inklusi intranuklear.


Gejala klinis
Pada anak anjing baru lahir infeksi berlangsung dengan generalisasi dan umumnya berakhir dengan kematian. Sedangkan anak anjing yang lebih tua dan dewasa infeksi umumnya berlokalisasi pada jalan pernafasan bagian depan dan pada alat kelamin.


Infeksi pada anak anjing baru lahir terlihat diare dengan feses berwarna kuning-hijau, dan terjadi 7-10 hari sesudah lahir. Anjing juga nampak lesu, muntah-muntah, tidak mau menyusu dan meraung-raung. 


Perut sering nyeri bila dipalpasi dan anak anjing mati dengan tanda-tanda sesak nafas. Sekali-kali timbul, sekonyong-konyong kematian tanpa didahului gejala-gejala yang dilukiskan. Umumnya dalam 14 hari semua anak anjing yang seumur mati. Anak anjing yang lebih tua infeksi bermanifestasi sebagai gangguan jalan respirasi bagian muka, yakni batuk-batuk dan leleran hidung.


Pada anjing betina virus menimbulkan jejas-jejas vesikuler pada traktus kelamin yang dapat menyebabkan abortus sebelum waktunya. Juga infeksi berulang pada selaput lendir vulva dan vagina dapat ditimbulkannya.


Diagnosa
Diagnosa dibuat berdasarkan anamnesa dan gambaran seksi. Septikemi bakteri dan hepatitis contagiosa canis dapat menyebabkan kematian dini pada anak anjing muda.

Senin, 04 Juni 2018

Mengenal Penyakit Coccidia pada Anjing




Penyakit Coccidia (coccidiosis) atau berak darah merupakan penyakit radang usus halus dan sering menyerang anak anjing. Anak anjing yang terserang adalah anak anjing umur 1 sampai 8 bulan, sedangkan anjing yang lebih tua atau dewasa lebih tahan terhadap penyakit ini. Gejala menciri dari penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan, kotoran encer berlendir sampai berlendir.

Penyakit berak darah biasanya bersifat kronis, timbulnya penyakit dan berat tidaknya gejala yang ditimbulkannya tergantung banyak sedikitnya oocyt isospora yang tertelan. Anak anjing peka terhadap penyakit ini, pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi akan menjadi sumber penularan penyakit permanen (carier).

Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah parasit dari golongan Isospora, yaitu Isospora canis dan Isospora bigemina. Parasit ini hidup dan berkembang biak pada usus halus.

Cara penularan
Penularan penyakit coccidiosis melalui tertelannya oocyt infektif yang mencemari makanan, minuman, kandang, alat lainnya yang tidak sengaja terjilat anak anjing. Oocyt akan masuk dalam perut dan akan menetap pada usus halus dan menyerang selaput lendir usus halus. Pada selaput usus oocyt akan tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak, kemudian akan menghasilkan oocyt kembali.

Oocyt dari usus akan keluar bersama kotoran anjing. Di luar tubuh anjing oocyt akan berkembang menjadi oocyt infektif (mengalami sporulasi) tergantung dari cocok tidaknya kondisi lingkungan, temperature dan kelembaban.

Gejala klinis
Gejala menciri pada anak anjing adalah berak lunak sampai encer berlendir, berdarah dari berwarna kecoklatan sampai kemerahan, nafsu makan berkurang, anjing depresi, lemah, lesu, pucat, anemia, dehidrasi dan bila diikuti infeksi sekunder akan terjadi demam. Gejala ini sering terlihat pada anak anjing dan anjing remaja.

Pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi bila diperiksa kotorannya, akan terlihat positif adanya oocyt isospora.

Pencegahan dan pengobatan
Tindakan pencegahan terhadap penyakit ini adalah menjaga kebersihan kandang, kandang harus tetap bersih dan kering, kotoran anjing segera dibersihkan. Penempatan tempat makan dan minum anjing harus diletakkan pada tempat yang tidak mudah tercemar kotoran anjing.

Selain itu pemberian makanan yang bergizi dengan kadar protein tinggi, serta pemberian mineral dan vitamin akan membentuk daya tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit. Pemberian obat cacing harus diberikan dan jangan sampai terlambat.

Pengobatan
Bila anjing mencret encer dan berdarah segera diberikan pengobatan, bisa dengan pemberian preparat sulfa dan obat-obat antidiare lainnya.

Bila kondisi anjing lemah sekali sebaiknya dibawa ke dokter hewan terdekat untuk diadakan pemeriksaan yang teliti dan segera diobati seperlunya (injeksi untuk tambah darah, menghentikan perdarahan dan pemberian preparat sulfa).

Minggu, 15 April 2018

Demodekosis pada Anjing



Penyakit Demodekosis merupakan penyakit kulit pada anjing yang paling sulit diberantas atau disembuhkan secara total. Hal ini disebabkan karena parasit ini lebih senang hidup pada pangkal ekor (folikel) rambut anjing dan tidak pada permukaan kulit seperti penyakit kulit lainnya.


Parasit demodekosis semua stadium, dari telur, larva, nympha, tungau (parasit dewasa) menghuni folikel rambut dan kelenjar lemak penderita, sehingga penyembuhannya makin sulit dan tidak bisa tuntas. Pengobatannya harus kontinyu dan tekun agar benar-benar sembuh dan tidak kambuh lagi.

Demodekosis merupakan penyakit peradangan kulit yang disertai keadaan imunodefisiensi dan dicirikan dengan demodeks yang berlebihan di dalam kulit.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh tungau Demodex canis. Merupakan bagian dari fauna normal kulit anjing dan jumlahnya sangat sedikit pada anjing sehat.

Siklus hidup tungau seluruhnya berlangsung pada kulit dan berada dalam folikel rambut namun kadang-kadng kelenjar sebaseus dan kelenjar keringat apokrin.

Untuk mempertahankan hidupnya tungau memakan sel-sel (dengan mmenggerogoti bagian epitel dan merusak ke dalam kelenjar asini.

Demodekosis dikenal 2 tipe yaitu demodekosis lokal dan demodekosis general.

Demodekosis Lokal, dikenal juga dengan demodekosis skuamosa berupa aplopesia melingkar pada satu atau beberapa tempat berukuran kecil, eritema, daerah tersebut bersisik dan mungkin saja tidak nyeri atau nyeri, kebanyakan ditemukan pada wajah dan kaki depan. Sifat penyakit ini kurang ganas dan kebanyakan kasus ini bias pulih secara spontan.

Demodekosis General, biasanya berawal dari lesi lokal dan bila lesi tidak mengalami mendapat perawatan memadai akan menjadi lesio yang meluas.

Cara penularan
Demodex canis merupakan penghuni normal kulit. Penularan terjadi karena kontak langsung dari induk ke anak-anaknya yang sedang menyusui selama dua sampai tiga hari masa-masa awal kehidupannya.

Tungau bahkan sudah bisa ditemukan pada folikel rambut anak anjing yang baru berumur 16 jam.

Tungau pertama kali ditemukan pada pipi (muzzle) anjing, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kontak langsung saat menyusui agar tungau bisa ditularkan.

Anak anjing yang dilahirkan dengan bedah Caesar dan dibesarkan jauh dari induknya tidak memiliki tungau pada kulitnya, hal ini menunjukkan bahwa penularan tidak terjadi di dalam uterus. Begitu juga tidak ditemukan pada kulit anak anjing yang baru dilahirkan.

Gejala klinis
Demodekosis lokal
Pada awalnya kulit mengalami eritema lokal dan alopesia sebagian. Bisa saja terjadi pruritis atau bahkan tidak gatal, dan daerah tersebut mungkin saja ditutupi oleh sisik-sisik kulit yang berwarna keperakan.

Tempat kerusakan kulit yang paling sering adalah pada wajah khususnya di daerah sekeliling mata (periokuler) dan pada sudut mulut (komisura). Kerusakan berikutnya pada kaki depan.
Kebanyakan anjing yang berumur 3 sampai 6 bulan dapat sembuh sendirinya tanpa pengobatan, namun sejumlah kasus bisa berkembang menjadi bentuk general.

Demodekosis general
Biasanya sifat penyakit sangat parah dan dapat berakhir dengan kematian. Penyakit diawali sebagai demodekosis lokal, kemudian berkembang dan bertambah parah. Sejumlah lesi muncul pada kepala, kaki, badan. Setiap makula yang terjadi akan meluas dan membuat kerontokan-kerontokan kulit yang meluas.

Tungau yang berkembang di dalam akar rambut akan menyebabkan terjadi folikulitis. Apabila pyoderma sekunder memperparah keadaan lesi ini, oedema dan keropeng akan menggantikan kerontokan rambut sebelumnya menjadi plaques. Bila folikulitis terjadi dan menghasilkan eksudat akan terbentuk keropeng yang tebal.

Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa dengan pemeriksaan kerokan kulit di bawah mikroskop. Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi kulit.

Melalui biopsi kulit dapat diketahui tingkatan perifolikulitis, folikulitis dan furunkulitis. Folikel rambut yang menderita akan dipenuhi oleh tungau demodeks.

Diagnosa banding
Penyakit ini jarang dikelirukan dengan penyakit lain, karena pada saat melakukan pengerokan kulit dapat ditemukan adanya tungau.

Pyoderma biasanya mirip demodekosis, dan setiap folikulitis hendaknya selalu dicurigai akan adanya demodekosis. Infeksi dermatofita biasanya menyerupai kerontokan rambut demodekosis lokal.

Demodekosis dapat dikelirukan dengan abrasi dan jerawat (acne) pada wajah anjing muda.
Dermatitis seborrheik lokal sangat mirip dengan demodekosis lokal, demikian juga pemfigus kompleks dan epidermolisis belosa simpleks yang merupakan lesi pada wajah bisa dikelirukan dengan demodekosis.

Pengobatan
Demodekosis lokal dapat diobati dengan pengobatan topikal dengan salep rotenone ringan (good winol ointment) atau lotion lindane dan benzyl benzoale yang diusapkan pada daerah-daerah yang mengalami kebotakan.

Pada demodekosis yang sudah bersifat general tidak mudah untuk diobati, dan memerlukan waktu sehingga penyakit ini bisa dikendalikan namun tidak selalu dapat disembuhkan. Pengobatan yang dapat diberikan yaitu amitraz (mitaban) yang diaplikasikan dengan memandikan anjing dan dilap dengan larutan amitraz.

Terapi lainnya apabila amitraz tidak berhasil yaitu menggunakan senyawa organofosfat ronnel, larutann Trichlorfon (negovon) 3 % dengan memandikan anjing.

Apabila pustula terjadi bersamaan dengan demodekosis general perhatian hendaknya diberikan terhadap adanya infeksi ikutan bakteri, dan yang paling sering menginfeksi adalah Staphylococcus aureus. Obat yang paling efektiif adalah cephalosporin, eritromisin, lincomisin dan chloramfenikol.

Sabtu, 14 April 2018

Canine Parvovirus Pada Anjing



Canine parvovirus merupakan penyakit yang penting pada anjing karena menyebabkan kematian yang tinggi pada populasi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi terutama pada penangkaran dan peternakan anjing komersial.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh Canine Parvovirus (CPV), termasuk dalam keluarga Parvoviridae. CPV merupakan virus menular tanpa amplop, memiliki asam nukleat berantai tunggal, polarisasi positif dan berdiameter 20-28 nm.

Patogenesa
Penularan penyakit biasanya melalui dua jalur utama yaitu mulut-anus dan sawar plasenta. Setelah mengalami replikasi di beberapa organ limfoid primer seperti thymus dan tompok Payer, virus selanjutnya menyebar ke berbagai organ tubuh melalui peredaran darah, misalnya tonsil dan usus halus dengan derajat keparahan yang hebat pada organ-organ limfoid.

Pada percobaan laboratorium, viremia dapat dideteksi pada hari ke-1 dan ke-2 pascainfeksi diikuti oleh viremia hari ke-3 sampai ke-5 pascainfeksi. Ekskresi virus umumnya dimulai pada hari ke-3 pascainfeksi disertai dengan kemunculan antibodi pada hari ke-4 dan mencapai konsentrasi maksimum pada hari ke-7 pascainfeksi. 

Peningkatan antibodi serum memiliki dampak yang sangat besar terhadap pengurangan ekskresi virus dan pemulihan kesehatan individu.

Epidemiologi
Infeksi CFV pada anjing ditemukan di banyak Negara di dunia, sejak kejadian wabah di Australia dan Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1978.

Cara penularan
Penularan umumnya melalui jalur mulut-anus, yang mungkin merupakan hasil dari kontak dengan bahan tercemar seperti kandang, pakaian, tinja dan tanah. Secara percobaan infeksi juga dapat dihasilkan melalui mulut, intubasi, lubang hidung, pembuluh darah dan intra-uterine.

Morbiditas dan mortalitas
Morbiditas CPV enteritis umumnya tinggi namun mortalitasnya rendah. Pada anjing-anjing muda mortalitasnya 10-12 % atau dapat mencapai 50 %. Pada anjing dewasa 1-2 %.

Pada CPV miokarditis yang pada awal kemunculannya mencapai 50 %, penurunan angka mortalitas dan morbiditas dari CPV miokarditis disebabkan oleh tingginya titer antibodi pada hewan bunting yang mungkin mencegah mereka dari infeksi. Semakin banyak induk yang memiliki titer antibodi tinggi maka semakin sedikit kasus infeksi yang muncul pada anjing-anjing muda.

Gejala klinis
Gejala klinis yang dapat timbul dari penyakit ini dikenal 2 jenis yaitu enteritis berdarah dan miokarditis nonsupuratif. 

Kematian mendadak pada anjing berumur di bawah 8 minggu merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada kasus miokarditis non supuratif akut. Kegagalan jantung sub akut disertai gangguan pernafasan dan seringkali disertai kematian dalam waktu 24-48 jam dapat terjadi pada anjing berumur diatas 8 minggu. 

Pada anjing remaja dan dewasa dapat terjadi kegagalan jantung kongestif disertai kerusakan otot jantung.

Berdasarkan derajat keparahannya, CPV enteritis dibedakan atas 3 jenis yaitu sedang, akut dan perakut. 

Mencret dan muntah disertai bau khas dan perdarahan merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada anjing penderita. Gejala lainnya berupa lesu, penurunan nafsu makan, leucopenia, demam dan dehidrasi.

Pada penderita per akut dapat terjadi kematian segera, sementara pada kasus sedang mungkin terjadi kesembuhan dalam beberapa minggu. Infeksi menyeluruh yang gejalanya serupa dengan sindroma ataksik pada kucing namunkejadiannya sangat jarang.

Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis, identifikasi virus dan penentuan antibodi spesifik.

Secara laboratorium, identifikasi virus dilaksanakan melalui pemanfaatan berbagai metode yang ada seperti histopatologi, isolasi virus pada biakan sel, uji hemaglutinasi, pewarna imun, elektronmikroskopi, uji ELISA dan biakan molekuler.

Sementara metode serologi yang digunakan untuk mendiagnosa CPV meliputi uji hambatan hemaglutinasi, hemolisis radial, netralisasi, flouresensi, radio imun, fiksasi komplemen dan presipitasi imun serta ELISA.

Pencegahan dan pemberantasan
Diare dan muntah secara berlebihan berpengaruh sangat buruk bagi hewan penderita CPV enteritis. Anjing seringkali mati karena dehidrasi. Pemberian larutan garam dan gula faali akan sangat membantu penderita untuk melewati masa kritis yang biasanya berlangsung 2-5 hari.

Pemberian vitamin dan gizi yang baik, penempatan pasien pada ruangan yang hangat dan nyaman serta pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder sangat dianjurkan.

Pencegahan dilakukan melalui desinfeksi alat dan bahan tercemar, perbaikan status gizi dan kesehatan hewan serta pelaksanaan program imunisasi secara teratur. Penggunaan formalin, fenol dan Na-hipoklorit untuk fumigasi atau penyemprotan dapat menekan kasus infeksi baru.

Distemper pada Anjing



Distemper anjing adalah penyakit yang sangat menular pada anjing dan karnivora lainnya. Distemper anjing merupakan penyakit viral yang paling umum pada anjing dan sedikit anjing yang benar-benar terisolasi tidak terpapar atau terinnfeksi oleh virus ini.


Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Morbilivirus. Virus distemper digolongkan ke dalam keluarga besar Paramyxoviridae dan berkerabat secara antigenik dan biofisik dengan virus campak (Measles) manusia dan virus sampar sapi (Rinderpest).

Virus ini tersusun atas RNA, bentuk simetri helikal, beramplop, virus ini agak labil dan aktifitasnya dapat dirusak oleh panas, kekeringan, deterjen, pelarut lemak dan desinfektan.

Patogenesa
Virus distemper anjing terutama ditularkan secara aerosol dan droplet infektif yang berasal dari sekresi tubuh hewan penderita sehingga infeksi menyebar sangat cepat diantara anak-anak anjing yang peka. Gambaran umum yang ditimbulkan oleh virus ini adalah suatu keadaan tertekannya kekebalan (imunosupresif).

Tertekannya kekebalan karena terjadinya perbanyakan virus di dalam jaringan limfoid selama masa inkubasi. Gejala-gejala yang khas distemper akut biasanya muncul bila anjing penderita distemper berhasil menekan kekebalan anjing terinfeksi tersebut.

Infeksi ikutan oleh bakteri sebagai akibat telah tertekannya kekebalan anjing kerap mendorong munculnya sejumlah gejala klinis yang menyertai distemper. Disamping itu infeksi bakteri juga akan memperbesar tingkat mortalitas.

Selain terjadinya infeksi ikutan oleh bakteri, kejadian toksoplasmosis, koksidiosis, enteritis viral dan infeksi mikoplasma yang bersamaan dengan infeksi distemper akan memperparah akibat penekanan system kekebalan pada anjing penderita.

Gejala klinis
Masa inkubasi sampai munculnya gejala klinis distemper akut biasanya 14-18 hari. Setelah anjing terpapar dan terinfeksi, akan terjadi demam singkat dan leucopenia yang berlangsung pada hari ke-4 dan ke-7 tanpa munculnya gejala klinis.

Suhu tubuh akan kembali normal pada hari ke-7 dan ke-14, setelah itu suhu tubuh akan naik untuk kedua kalinya disertai konjungtivitis, rhinitis, batuk, diare, anoreksia, dehidrasi dan penurunan berat badan.

Leleran okulonasal yang mukopurulen dan pneumonia sering terjadi sebagai akibat infeksi ikutan oleh bakteri. Kuman Bordetella bronchiseptica umum ditemukan pada anjing distemper. Tutul-tutul kemerahan pada kuliit yang kemudian berkembang menjadi pustule bisa bias ditemukan, khususnya pada abdomen.

Gejala-gejala terjadinya ensefalitis bisa muncul dengan beragam bentuk. Mioklonus atau mengerejatnya otot tanpa dikendali anjing tampak mendadak seperti mengunyah permen karet, ataksia, inkoordinasi, berpusing-pusing, hyperesthesia, kekakuan pada otot, selalu merasa ketakutan dan kebutaan menjadi gejala-gejala syaraf yang paling umum dijumpai pada penderita distemper.

Selain distemper menyebabkan ensefalitis akut dan subakut, distemper juga menimbulkan bentuk ensefalitis kronis dengan gejala meliputi inkoordinasi, kelemahan kaki belakang, matanya tidak tanggap terhadap suatu ancaman benda baik unilateral maupun bilateral, kedudukan kepala miring, nistagmus, paralisis wajah, tremor kepala tanpa disertai mioklonus.

Bentuk lain ensefalitis kronis adalah “old dog encephalitis” dengan gejala klinis gangguan penglihatan dan kurang tanggapnya mata terhadap ancaman suatu benda secara bilateral.

Diagnosa
Diagnosa distemper akut dan subakut biasanya berdasarkan riwayat penyakit dan gejala klinis. Pemeriksaan oftalmoskopik bisa melacak terjadinya chorioretinitis dengan daerah degenerasi berwarna abu-abu sampai merah muda pada tapetum atau fundus nontapetum dalam suatu kejadian penyakit yang akut.

Suatu diagnosa pasti yang dibuat dengan melacak keberadaan virus distemper pada sel-sel epitel dengan pemeriksaan zat kebal berpendar (fluorescent antibody) atau dengan mengisolasi virus.

Pencegahan dan Pengobatan
Obat-obat antivirus atau bahan-bahan kemoterapetika yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan yang spesifik untuk anjing distemper hingga kini belum tersedia. Antibiotic spectrum luas bisa diberikan untuk mengendalikan infeksi bakteri ikutan, disamping pemberian cairan elektrolit, vitamin B dan suplementasi nutrisi untuk suatu terapi suportif.

Selain itu pemberian vitamin C dan dietil ether bermanfaat dalam pengobatan distemper. Pemberian Dexamethasone dilaporkan memberikan sejumlah manfaat dalam mengobati anjing pasca distemper yang disertai gejala-gejala syaraf pemberian vaksin distemper MLV (modified live virus) secara intravena memberikan hasil yang baik.

Untuk pencegahan dilakukan vaksinasi dengan vaksin MLV. Dosis tunggal vaksin distemper MLV memberikan kekebalan anjing-anjing yang tidak memiliki zat kebal terhadap distemper dan peka terhadap penyakit ini.

Dengan vaksinasi sekitar 50 % anak anjing bisa dikebalkan terhadap distemper saat berumur 6 minggu, sekitar 75 % saat berumur 9 minggu dan lebih dari 95 % di atas usia 13 minggu.

Vaksinasi diberikan pada anjing saat berumur 5-7 minggu diikuti pemberian vaksin dengan selang pemberian 3-4 minggu hingga berumur 14 minggu dan vaksin ulangan setiap tahun. Jadwal seperti demikian akan memberikan kekebalan anjing terhadap distemper dan titer kebal akan bertahan lama setelah terjadinya tanggapan terhadap vaksinasi ulangan (booster).