Kesmavet, Berita Keswan, Kesehatan Hewan, Peternakan, Dokter Hewan
Tampilkan postingan dengan label Hewan Kesayangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hewan Kesayangan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Juni 2018
Infeksi Virus Herpes pada Anjing
Dalam memelihara anjing, seringkali induk anjing yang beranak tetapi anak yang lahir mati. Disitu kita merasa sedih karena sudah merawat induknya ketika bunting dengan memberikan makanan yang baik dan sehat, tetap memperhatikan kesehatan induk anjing termasuk kesehatan kandangnya. Nah apabila terjadi hal demikian kira-kira apa ya penyebabnya ?, kenapa anak anjing yang baru lahir tiba-tiba mati ?.
Kejadian seperti itu bisa disebabkan oleh penyakit atau infeksi pada anak anjing yang baru lahir tersebut yang disebabkan oleh virus yaitu virus herpes. Seperti apa penyakit tersebut ?, yuuk ikuti penjelansannya di bawah ini.
Salah satu Penyakit yang menyebabkan kematian yang tinggi pada anak anjing yang baru lahir adalah infeksi yang disebabkan oleh virus herpes. Penyakit ini dikenal juga dengan nama Neonatal canine herpesvirus infection dan Fading puppy syndrome.
Pada anjing dewasa virus menyebabkan infeksi laten. Agen penyebab untuk pertama kali diisolasi di USA dalam tahun 1965 dari anak anjing baru lahir dan mati. Sesudah itu virus ditemukan di banyak negara eropa.
Penyebab
Hingga sekarang hanya dikenal satu virus herpes pada anjing yang dinamakan canine herpesvirus (CHV) yang termasuk herpesvirus golongan A. CHV bereplikasi dalam biakan sel anjing, menimbulkan CPE dan membentuk badan inklusi intranuklear.
Gejala klinis
Pada anak anjing baru lahir infeksi berlangsung dengan generalisasi dan umumnya berakhir dengan kematian. Sedangkan anak anjing yang lebih tua dan dewasa infeksi umumnya berlokalisasi pada jalan pernafasan bagian depan dan pada alat kelamin.
Infeksi pada anak anjing baru lahir terlihat diare dengan feses berwarna kuning-hijau, dan terjadi 7-10 hari sesudah lahir. Anjing juga nampak lesu, muntah-muntah, tidak mau menyusu dan meraung-raung.
Perut sering nyeri bila dipalpasi dan anak anjing mati dengan tanda-tanda sesak nafas. Sekali-kali timbul, sekonyong-konyong kematian tanpa didahului gejala-gejala yang dilukiskan. Umumnya dalam 14 hari semua anak anjing yang seumur mati. Anak anjing yang lebih tua infeksi bermanifestasi sebagai gangguan jalan respirasi bagian muka, yakni batuk-batuk dan leleran hidung.
Pada anjing betina virus menimbulkan jejas-jejas vesikuler pada traktus kelamin yang dapat menyebabkan abortus sebelum waktunya. Juga infeksi berulang pada selaput lendir vulva dan vagina dapat ditimbulkannya.
Diagnosa
Diagnosa dibuat berdasarkan anamnesa dan gambaran seksi. Septikemi bakteri dan hepatitis contagiosa canis dapat menyebabkan kematian dini pada anak anjing muda.
Senin, 04 Juni 2018
Mengenal Penyakit Coccidia pada Anjing
Penyakit Coccidia (coccidiosis) atau berak darah merupakan penyakit radang usus halus dan sering menyerang anak anjing. Anak anjing yang terserang adalah anak anjing umur 1 sampai 8 bulan, sedangkan anjing yang lebih tua atau dewasa lebih tahan terhadap penyakit ini. Gejala menciri dari penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan, kotoran encer berlendir sampai berlendir.
Penyakit berak darah biasanya bersifat kronis, timbulnya penyakit dan berat tidaknya gejala yang ditimbulkannya tergantung banyak sedikitnya oocyt isospora yang tertelan. Anak anjing peka terhadap penyakit ini, pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi akan menjadi sumber penularan penyakit permanen (carier).
Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah parasit dari golongan Isospora, yaitu Isospora canis dan Isospora bigemina. Parasit ini hidup dan berkembang biak pada usus halus.
Cara penularan
Penularan penyakit coccidiosis melalui tertelannya oocyt infektif yang mencemari makanan, minuman, kandang, alat lainnya yang tidak sengaja terjilat anak anjing. Oocyt akan masuk dalam perut dan akan menetap pada usus halus dan menyerang selaput lendir usus halus. Pada selaput usus oocyt akan tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak, kemudian akan menghasilkan oocyt kembali.
Oocyt dari usus akan keluar bersama kotoran anjing. Di luar tubuh anjing oocyt akan berkembang menjadi oocyt infektif (mengalami sporulasi) tergantung dari cocok tidaknya kondisi lingkungan, temperature dan kelembaban.
Gejala klinis
Gejala menciri pada anak anjing adalah berak lunak sampai encer berlendir, berdarah dari berwarna kecoklatan sampai kemerahan, nafsu makan berkurang, anjing depresi, lemah, lesu, pucat, anemia, dehidrasi dan bila diikuti infeksi sekunder akan terjadi demam. Gejala ini sering terlihat pada anak anjing dan anjing remaja.
Pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi bila diperiksa kotorannya, akan terlihat positif adanya oocyt isospora.
Pencegahan dan pengobatan
Tindakan pencegahan terhadap penyakit ini adalah menjaga kebersihan kandang, kandang harus tetap bersih dan kering, kotoran anjing segera dibersihkan. Penempatan tempat makan dan minum anjing harus diletakkan pada tempat yang tidak mudah tercemar kotoran anjing.
Selain itu pemberian makanan yang bergizi dengan kadar protein tinggi, serta pemberian mineral dan vitamin akan membentuk daya tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit. Pemberian obat cacing harus diberikan dan jangan sampai terlambat.
Pengobatan
Bila anjing mencret encer dan berdarah segera diberikan pengobatan, bisa dengan pemberian preparat sulfa dan obat-obat antidiare lainnya.
Bila kondisi anjing lemah sekali sebaiknya dibawa ke dokter hewan terdekat untuk diadakan pemeriksaan yang teliti dan segera diobati seperlunya (injeksi untuk tambah darah, menghentikan perdarahan dan pemberian preparat sulfa).
Peritonitis Menular Kucing
Peritonitis menular atau Feline Infectious Peritonitis (FIP) dalam bentuk klasik adalah penyakit yang berjalan progresif dan umumnya fatal pada kucing.
Pada kucing yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan peritonitis yang bersifat sero-fibrinosa atau dalam rongga perut tertimbun cairan yang banyaknya bervariasi dan mengandung banyak fibrin.
Penyakit ini baru dikenal dalam tahun 1960-an dan pertama kali di temukan di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun berikutnya penyakit ini ditemukan di banyak negara Eropa.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam famili Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100 nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan coronavirus 229E pada manusia.
Cara penularan
Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya ditemukan secara sporadik. Mengenai cara infeksi terjadi sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan eksudat kucing sakit.
Sebagian besar infeksi berlangsung secara subklinis. Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer tinggi, di samping itu kucing memperlihatkan hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.
Gejala Klinis
Penyakit mulai dengan gejala-gejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan kemudian terjadi asites.
Palpasi abdomen tidak menimbulkan gejala nyeri walaupun peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas.
Pada kucing yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan peritonitis yang bersifat sero-fibrinosa atau dalam rongga perut tertimbun cairan yang banyaknya bervariasi dan mengandung banyak fibrin.
Penyakit ini baru dikenal dalam tahun 1960-an dan pertama kali di temukan di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun berikutnya penyakit ini ditemukan di banyak negara Eropa.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam famili Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100 nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan coronavirus 229E pada manusia.
Cara penularan
Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya ditemukan secara sporadik. Mengenai cara infeksi terjadi sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan eksudat kucing sakit.
Sebagian besar infeksi berlangsung secara subklinis. Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer tinggi, di samping itu kucing memperlihatkan hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.
Gejala Klinis
Penyakit mulai dengan gejala-gejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan kemudian terjadi asites.
Palpasi abdomen tidak menimbulkan gejala nyeri walaupun peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas.
Gejala saraf biasanya terlihat seperti paresis, ataksis, gangguan koordinasi, hiperestesi dan kekejangan. Biasanya kucing mati dalam 1-8 minggu sesudah terlihat gejala-gejala jelas.
Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan histopatologis dan pemeriksaan laboratorium. Pada kasus-kasus klasik, diagnosa tidak sulit. Bila kucing di punksi maka dari ruang abdomen keluar cairan berlendir dan sebagian akan membeku bila kena udara luar. Secara histopatologi ditemukan lesi berbentuk granuloma dan biasanya nekrosa ditemukan pada serosa dan alat-alat tubuh.
Pemeriksaan laboratorium dengan tes imunoflouresensi indirek dilakukan untuk membuktikan adanya antibodi. Pada kucing yang secara klinis kelihatan sehat dapat ditemukan badan-badan penangkis. Titer yang sangat tinggi hanya terlihat pada kucing yang klinis menderita FIP.
Diagnos Banding
Penggumpalan cairan dalam rongga perut dan dada menimbulkan dugaan mengenai adanya gangguan jantung, tumor, piometra, sobek kandung kencing dan peritonitis oleh infeksi bakteri dan jamur.
Kelainan-kelainan pada mata selain pada FIP juga ditemukan pada toksoplasmosis dan leksosis. Gejala saraf ditemukan pada toksoplasmosis, infeksi mikotis, dan ensefalopati bakterial.
Pencegahan dan Pengobatan
Bila diagnosa FIP sudah ditentukan maka prognosanya sulit. Untuk pencegahan, vaksinasi belum ada. Kucing yang terinfeksi sebaiknya disingkirkan/musnahkan.
Sabtu, 12 Mei 2018
Mengenal Rabies dan Sejarahnya di Indonesia
Rabies atau dikenal
sebagai Lyssa, Tollwut, Hydrophobia, atau di Indonesia dikenal sebagai Anjing Gila adalah infeksi viral dan akut
pada susunan saraf yang klinis ditandai
kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian. Penyakit ini
dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas dan merupakan masalah pada manusia
karena bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia).
Rabies merupakan salah
satu penyakit tertua dan paling ditakuti manusia, pertama kali dikenal di Mesir
(Zaman Pemerintahan Kerajaan Babilonia) dan Yunani Kuno sekitar tahun 2300
sebelum Masehi. Rabies selanjutnya ditemukan di sebagian besar dunia, termasuk
Indonesia. Sedangkan Negara-negara yang bebas rabies adalah Australia, Selandia
Baru, Inggris, Belanda, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), dan sejumlah
pulau-pulau terpencil di Pasifik.
Tiap-tiap negara yang
mengenal rabies mempunyai vektor-vektor utama sendiri. Di Amerika Selatan dan
Tengah yang beriklim tropis, anjing, kucing, kelelawar penghisap darah
(vampire) dan kelelawar pemakan serangga memegang peranan sebagai vektor
rabies. Di seluruh Negara di Afrika yang memegang peranan sebagai penyebar
utama ialah anjing, kucing, jakal dan monggus. Di Timur Tengah yang meneruskan
rabies terutama pada lembu yaitu anjing, dan anjing hutan (wolves). Sedangkan
di Asia yang berperanan sebagai penyebar rabies adalah anjing dan kucing.
Penyebab
Rabies disebabkan oleh
virus yang termasuk dalam keluarga Rhabdoviridae dan genus Lyssavirus. Rhabdovirus
merupakan golongan virus yang bentuknya menyerupai peluru, dengan panjang
kira-kira 180 nm dan garis tengahnya 75 nm. Pada permukaannya terdapat
bentuk-bentuk pancang (spikes) yang panjangnya 9 nm.
Virus rabies peka terhadap
panas. Suspensi virus sudah diinaktifkan pada suhu 50 selama 15 menit. Fenol,
eter, chloroform, formaldehid dan basa ammonium kuartener dapat menginaktifkan
virus rabies.
Gejala Klinis
Gejala klinis rabies mirip
pada sebagian besar spesies, tetapi sangat bervariasi antar individu. Setelah
terjadi gigitan hewan penderita rabies, masa inkubasi biasanya antara 14-90
hari tetapi bisa sampai 7 tahun. 95% masa inkubasi rabies 3-4 bulan, dan hanya
1% kasus dengan inkubasi 7 hari sampai 7 tahun. Karena lamanya masa inkubasi
tersebut kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan.
Gejala klinis pada hewan
dikenal dua bentuk yaitu bentuk beringas dan bentuk paralisis. Bentuk beringas
hewan menjadi gelisah, gugup, agresif dan menggigit apa saja yang ditemuinya,
respon berlebihan pada suara dan sinar, takut air (hydrophobia) dan keluar air
liur berlebihan (hipersalivasi).
Bentuk paralisis ditandai
dengan ensefalitis disertai kelemahan bagian belakang tubuh yang menyebabkan
hewan berjalan terhuyung-huyung, keganasan berubah menjadi kelumpuhan,
kejang-kejang, koma dan terhentinya pernafasan hingga berakhir dengan kematian.
Rabies di Indonesia
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu
menyebabkan kematian (always almost fatal) setelah timbul gejala klinis dengan
tingkat kematian sampai 100%.
Rabies pada manusia
biasanya melalui kontak dengan binatang anjing, kera, kucing, serigala,
kelelawar melalui gigitan atau kontak
virus lewat air liur dengan luka. Infeksi lain yaitu melalui inhalasi dilaporkan
pada orang yang mengunjungi gua-gua kelelewar tanpa adanya gigitan. Virus masuk ke dalam ujung saraf
yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai
mencapai sistem saraf pusat yang
biasanya pada sumsum tulang belakang selanjutnya menyerang otak.
Gejala awal rabies pada
manusia berupa demam disertai rasa kesemutan pada tempat gigitan, malaise (rasa tidak enak badan),
mual, dan rasa nyeri di tenggorokan. Selanjutnya disusul dengan gejala cemas,
gelisah dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensoris (stimulus-sensitive
myoclonus). Tonus otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan
gejala-gejala hipersalivasi, hiperlakrimasi, pupil dilatasi dan paralisis, koma
kemudian berakhir dengan kematian.
Sejarah Rabies di Indonesia
Rabies di Indonesia
pertama kali ditemukan pada kerbau oleh Esser (1884), anjing oleh Penning
(1889), dan pada manusia oleh E.V. de Haan (1894) yang ketiganya ditemukan di
Jawa Barat. Selanjutnya beberapa tahun kemudian kasus rabies ditemukan di Sumatera
Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (1953),
Sumatera Utara (1956), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara (1958),
Sumatera Selatan (1959), Aceh (1970), Jambi dan Yogyakarta (1971), Kalimantan
Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan
Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983), Pulau Flores NTT (1997), Pulau Ambon
dan Pulau seram (2003).
Dengan tertularnya Bali
sebagai daerah wabah baru sejak 1 Desember 2008 melalui Peraturan menteri
Pertanian No.1637/2008 maka daerah bebas sampai saat ini adalah NTB, NTT kecuali
Pulau Flores, Maluku, Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan Barat, Pulau
Madura dan sekitarnya, Pulau-pulau di sekitar Pulau Sumetera, Jawa Timur,
Yogyakarta, dan Jawa Tengah.
Rabies pada manusia telah
menimbulkan banyak korban. Dari tahun 1977 hingga 1978 sebelas provinsi
mencatat 142 kasus rabies pada manusia. Selama periode 1979-1983 di Indonesia
telah dilaporkan 298 kasus rabies dengan rata-rata 60 kasus per tahun.
Penyebaran daerah rabies berjalan terus sampai sekarang.
Pada dekade Sembilan puluhan
kejadian di Pulau Sumetera per tahun tidak kurang dari 1000 kasus hewan
ditemukan menderita rabies. Sedangkan kasus rabies yang dilaporkan di Pulau
Flores selama tahun 1997-2005 dari 11.786 jumlah gigitan hewan penular rabies
(HPR), sebanyak 149 orang dinyatakan meninggal (1,35%). Insiden rata-rata per
tahun kasus rabies pada manusia memang kecil dibandingkan dengan penyakit
menular lainnya namun efek psikologisnya sangat besar terutama pada manusia
yang telah digigit anjing dan secara ekonomis sangat merugikan karena dapat
mengancam kepariwisataan.
Pencegahan dan
Pengendalian
Virus rabies tidak stabil
di lingkungan dan biasanya hanya menimbulkan resiko bila ditularkan melalui
gigitan atau cakaran hewan penderita rabies. Karena di Indonesia umumnya HPR
adalah anjing, maka menurut Ressang (1983), bila rabies dapat diberantas pada
anjing maka dengan sendirinya penyakit ini tidak akan menyerang lebih luas.
Dengan kata lain vektor utama rabies harus dapat dikendalikan untuk dapat
mengurangi resiko penularan lebih lanjut dari rabies tersebut.
Lebih lanjut menurutnya
pemberantasan rabies di Indonesia hendaknya berdasarkan: 1). penyadaran kepada
masyarakat tentang arti rabies dan mengikutsertakannya dalam kampanye
pemberantasan rabies. 2). Eliminasi anjing liar sebagai vektor utama yang
menyebarkan virus rabies. 3). Vaksinasi, sebagai tindakan preventif baik pada
hewan maupun manusia.
Sedangkan Tri Satya
Naipospos (mantan Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan)
menyarankan bahwa pengendalian terhadap rabies dengan metode LAS (Local Area
Spesific Problem Solving) atau pemecahan masalah melalui pendekatan spesifik
wilayah karena permasalahan spesifik masing-masing daerah berbeda. Secara umum
kegiatan pengendalian dilakukan dengan vaksinasi semua populasi HPR, observasi
terhadap hewan tersangka rabies, eliminasi HPR liar, pemberian Vaksin Anti
Rabies bagi orang beresiko tertular, dan yang paling penting terutama
pengawasan lalu lintas antar kabupaten/kota dengan pemanfaatan pos (check
point) dan di pintu-pintu masuk (entry point) oleh petugas karantina untuk
mencegah masuknya rabies ke daerah bebas atau mencegah penularan lebih luas.
Untuk perawatan kepada
orang sesudah digigit oleh anjing atau dicurigai menderita rabies yang
terpenting adalah perawatan pada
luka/tempat gigitan. Pertama luka dibiarkan mengeluarkan banyak darah, kemudian
luka dibersihkan dengan sabun dan selanjutnya luka didesinfeksi (bisa dengan
alkohol 40-70%, basa ammonium kuartener, atau yodium tincture). Virus dalam
luka dapat dinetralisir dengan suntikan infiltrasi jaringan di sekitar luka
dengan serum imun atau dengan menebarkan bedak desinfektan dalam luka.
Minggu, 15 April 2018
Demodekosis pada Anjing
Penyakit Demodekosis merupakan penyakit
kulit pada anjing yang paling sulit diberantas atau disembuhkan secara total.
Hal ini disebabkan karena parasit ini lebih senang hidup pada pangkal ekor
(folikel) rambut anjing dan tidak pada permukaan kulit seperti penyakit kulit
lainnya.
Parasit demodekosis semua stadium, dari
telur, larva, nympha, tungau (parasit dewasa) menghuni folikel rambut dan
kelenjar lemak penderita, sehingga penyembuhannya makin sulit dan tidak bisa
tuntas. Pengobatannya harus kontinyu dan tekun agar benar-benar sembuh dan
tidak kambuh lagi.
Demodekosis merupakan penyakit peradangan
kulit yang disertai keadaan imunodefisiensi dan dicirikan dengan demodeks yang
berlebihan di dalam kulit.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh tungau Demodex
canis. Merupakan bagian dari fauna normal kulit anjing dan jumlahnya sangat
sedikit pada anjing sehat.
Siklus hidup tungau seluruhnya berlangsung
pada kulit dan berada dalam folikel rambut namun kadang-kadng kelenjar sebaseus
dan kelenjar keringat apokrin.
Untuk mempertahankan hidupnya tungau
memakan sel-sel (dengan mmenggerogoti bagian epitel dan merusak ke dalam
kelenjar asini.
Demodekosis dikenal 2 tipe yaitu
demodekosis lokal dan demodekosis general.
Demodekosis Lokal, dikenal juga dengan demodekosis
skuamosa berupa aplopesia melingkar pada satu atau beberapa tempat berukuran
kecil, eritema, daerah tersebut bersisik dan mungkin saja tidak nyeri atau
nyeri, kebanyakan ditemukan pada wajah dan kaki depan. Sifat penyakit ini
kurang ganas dan kebanyakan kasus ini bias pulih secara spontan.
Demodekosis General, biasanya berawal dari
lesi lokal dan bila lesi tidak mengalami mendapat perawatan memadai akan
menjadi lesio yang meluas.
Cara penularan
Demodex canis merupakan penghuni normal
kulit. Penularan terjadi karena kontak langsung dari induk ke anak-anaknya yang
sedang menyusui selama dua sampai tiga hari masa-masa awal kehidupannya.
Tungau bahkan sudah bisa ditemukan pada
folikel rambut anak anjing yang baru berumur 16 jam.
Tungau pertama kali ditemukan pada pipi
(muzzle) anjing, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kontak langsung saat
menyusui agar tungau bisa ditularkan.
Anak anjing yang dilahirkan dengan bedah
Caesar dan dibesarkan jauh dari induknya tidak memiliki tungau pada kulitnya,
hal ini menunjukkan bahwa penularan tidak terjadi di dalam uterus. Begitu juga
tidak ditemukan pada kulit anak anjing yang baru dilahirkan.
Gejala klinis
Demodekosis lokal
Pada awalnya kulit mengalami eritema lokal
dan alopesia sebagian. Bisa saja terjadi pruritis atau bahkan tidak gatal, dan
daerah tersebut mungkin saja ditutupi oleh sisik-sisik kulit yang berwarna
keperakan.
Tempat kerusakan kulit yang paling sering
adalah pada wajah khususnya di daerah sekeliling mata (periokuler) dan pada
sudut mulut (komisura). Kerusakan berikutnya pada kaki depan.
Kebanyakan anjing yang berumur 3 sampai 6
bulan dapat sembuh sendirinya tanpa pengobatan, namun sejumlah kasus bisa
berkembang menjadi bentuk general.
Demodekosis general
Biasanya sifat penyakit sangat parah dan
dapat berakhir dengan kematian. Penyakit diawali sebagai demodekosis lokal,
kemudian berkembang dan bertambah parah. Sejumlah lesi muncul pada kepala,
kaki, badan. Setiap makula yang terjadi akan meluas dan membuat kerontokan-kerontokan
kulit yang meluas.
Tungau yang berkembang di dalam akar rambut
akan menyebabkan terjadi folikulitis. Apabila pyoderma sekunder memperparah
keadaan lesi ini, oedema dan keropeng akan menggantikan kerontokan rambut
sebelumnya menjadi plaques. Bila folikulitis terjadi dan menghasilkan eksudat
akan terbentuk keropeng yang tebal.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa dengan
pemeriksaan kerokan kulit di bawah mikroskop. Pemeriksaan histopatologi melalui
biopsi kulit.
Melalui biopsi kulit dapat diketahui
tingkatan perifolikulitis, folikulitis dan furunkulitis. Folikel rambut yang
menderita akan dipenuhi oleh tungau demodeks.
Diagnosa banding
Penyakit ini jarang dikelirukan dengan
penyakit lain, karena pada saat melakukan pengerokan kulit dapat ditemukan
adanya tungau.
Pyoderma biasanya mirip demodekosis, dan
setiap folikulitis hendaknya selalu dicurigai akan adanya demodekosis. Infeksi
dermatofita biasanya menyerupai kerontokan rambut demodekosis lokal.
Demodekosis dapat dikelirukan dengan abrasi
dan jerawat (acne) pada wajah anjing muda.
Dermatitis seborrheik lokal sangat mirip
dengan demodekosis lokal, demikian juga pemfigus kompleks dan epidermolisis
belosa simpleks yang merupakan lesi pada wajah bisa dikelirukan dengan
demodekosis.
Pengobatan
Demodekosis lokal dapat diobati dengan
pengobatan topikal dengan salep rotenone ringan (good winol ointment) atau
lotion lindane dan benzyl benzoale yang diusapkan pada daerah-daerah yang
mengalami kebotakan.
Pada demodekosis yang sudah bersifat general
tidak mudah untuk diobati, dan memerlukan waktu sehingga penyakit ini bisa
dikendalikan namun tidak selalu dapat disembuhkan. Pengobatan yang dapat
diberikan yaitu amitraz (mitaban) yang diaplikasikan dengan memandikan anjing
dan dilap dengan larutan amitraz.
Terapi lainnya apabila amitraz tidak
berhasil yaitu menggunakan senyawa organofosfat ronnel, larutann Trichlorfon
(negovon) 3 % dengan memandikan anjing.
Apabila pustula terjadi bersamaan dengan
demodekosis general perhatian hendaknya diberikan terhadap adanya infeksi
ikutan bakteri, dan yang paling sering menginfeksi adalah Staphylococcus
aureus. Obat yang paling efektiif adalah cephalosporin, eritromisin, lincomisin
dan chloramfenikol.
Sabtu, 14 April 2018
Canine Parvovirus Pada Anjing
Canine parvovirus
merupakan penyakit yang penting pada anjing karena menyebabkan kematian yang
tinggi pada populasi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi
terutama pada penangkaran dan peternakan anjing komersial.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan
oleh Canine Parvovirus (CPV), termasuk dalam keluarga Parvoviridae. CPV
merupakan virus menular tanpa amplop, memiliki asam nukleat berantai tunggal,
polarisasi positif dan berdiameter 20-28 nm.
Patogenesa
Penularan penyakit
biasanya melalui dua jalur utama yaitu mulut-anus dan sawar plasenta. Setelah
mengalami replikasi di beberapa organ limfoid primer seperti thymus dan tompok
Payer, virus selanjutnya menyebar ke berbagai organ tubuh melalui peredaran
darah, misalnya tonsil dan usus halus dengan derajat keparahan yang hebat pada
organ-organ limfoid.
Pada percobaan
laboratorium, viremia dapat dideteksi pada hari ke-1 dan ke-2 pascainfeksi
diikuti oleh viremia hari ke-3 sampai ke-5 pascainfeksi. Ekskresi virus umumnya
dimulai pada hari ke-3 pascainfeksi disertai dengan kemunculan antibodi pada
hari ke-4 dan mencapai konsentrasi maksimum pada hari ke-7 pascainfeksi.
Peningkatan antibodi serum
memiliki dampak yang sangat besar terhadap pengurangan ekskresi virus dan
pemulihan kesehatan individu.
Epidemiologi
Infeksi CFV pada anjing
ditemukan di banyak Negara di dunia, sejak kejadian wabah di Australia dan
Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1978.
Cara penularan
Penularan umumnya melalui
jalur mulut-anus, yang mungkin merupakan hasil dari kontak dengan bahan
tercemar seperti kandang, pakaian, tinja dan tanah. Secara percobaan infeksi
juga dapat dihasilkan melalui mulut, intubasi, lubang hidung, pembuluh darah
dan intra-uterine.
Morbiditas dan mortalitas
Morbiditas CPV enteritis
umumnya tinggi namun mortalitasnya rendah. Pada anjing-anjing muda
mortalitasnya 10-12 % atau dapat mencapai 50 %. Pada anjing dewasa 1-2 %.
Pada CPV miokarditis yang
pada awal kemunculannya mencapai 50 %, penurunan angka mortalitas dan
morbiditas dari CPV miokarditis disebabkan oleh tingginya titer antibodi pada
hewan bunting yang mungkin mencegah mereka dari infeksi. Semakin banyak induk
yang memiliki titer antibodi tinggi maka semakin sedikit kasus infeksi yang
muncul pada anjing-anjing muda.
Gejala klinis
Gejala klinis yang dapat
timbul dari penyakit ini dikenal 2 jenis yaitu enteritis berdarah dan
miokarditis nonsupuratif.
Kematian mendadak pada
anjing berumur di bawah 8 minggu merupakan gejala klinis yang paling sering
ditemukan pada kasus miokarditis non supuratif akut. Kegagalan jantung sub akut
disertai gangguan pernafasan dan seringkali disertai kematian dalam waktu 24-48
jam dapat terjadi pada anjing berumur diatas 8 minggu.
Pada anjing remaja dan
dewasa dapat terjadi kegagalan jantung kongestif disertai kerusakan otot
jantung.
Berdasarkan derajat
keparahannya, CPV enteritis dibedakan atas 3 jenis yaitu sedang, akut dan
perakut.
Mencret dan muntah
disertai bau khas dan perdarahan merupakan gejala yang paling sering ditemukan
pada anjing penderita. Gejala lainnya berupa lesu, penurunan nafsu makan,
leucopenia, demam dan dehidrasi.
Pada penderita per akut
dapat terjadi kematian segera, sementara pada kasus sedang mungkin terjadi
kesembuhan dalam beberapa minggu. Infeksi menyeluruh yang gejalanya serupa
dengan sindroma ataksik pada kucing namunkejadiannya sangat jarang.
Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa
berdasarkan gejala klinis, patologis, identifikasi virus dan penentuan antibodi
spesifik.
Secara laboratorium,
identifikasi virus dilaksanakan melalui pemanfaatan berbagai metode yang ada
seperti histopatologi, isolasi virus pada biakan sel, uji hemaglutinasi,
pewarna imun, elektronmikroskopi, uji ELISA dan biakan molekuler.
Sementara metode serologi
yang digunakan untuk mendiagnosa CPV meliputi uji hambatan hemaglutinasi,
hemolisis radial, netralisasi, flouresensi, radio imun, fiksasi komplemen dan
presipitasi imun serta ELISA.
Pencegahan dan
pemberantasan
Diare dan muntah secara
berlebihan berpengaruh sangat buruk bagi hewan penderita CPV enteritis. Anjing
seringkali mati karena dehidrasi. Pemberian larutan garam dan gula faali akan
sangat membantu penderita untuk melewati masa kritis yang biasanya berlangsung
2-5 hari.
Pemberian vitamin dan gizi
yang baik, penempatan pasien pada ruangan yang hangat dan nyaman serta
pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder sangat dianjurkan.
Pencegahan dilakukan
melalui desinfeksi alat dan bahan tercemar, perbaikan status gizi dan kesehatan
hewan serta pelaksanaan program imunisasi secara teratur. Penggunaan formalin,
fenol dan Na-hipoklorit untuk fumigasi atau penyemprotan dapat menekan kasus
infeksi baru.
Langganan:
Postingan (Atom)





