Tampilkan postingan dengan label Penyakit pada Kucing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit pada Kucing. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2018

Peritonitis Menular Kucing


Peritonitis menular atau Feline Infectious Peritonitis (FIP) dalam bentuk klasik adalah penyakit yang berjalan progresif dan umumnya fatal pada kucing.

Pada kucing yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan peritonitis yang bersifat sero-fibrinosa atau dalam rongga perut tertimbun cairan yang banyaknya bervariasi dan mengandung banyak fibrin.

Penyakit ini baru dikenal dalam tahun 1960-an dan pertama kali di temukan di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun berikutnya penyakit ini ditemukan di banyak negara Eropa.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam famili Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100 nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan coronavirus 229E pada manusia.

Cara penularan
Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya ditemukan secara sporadik. Mengenai cara infeksi terjadi sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan eksudat kucing sakit.

Sebagian besar infeksi berlangsung secara subklinis.  Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer tinggi, di samping itu kucing memperlihatkan hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.

Gejala Klinis
Penyakit mulai dengan gejala-gejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan kemudian terjadi asites.

Palpasi abdomen tidak menimbulkan gejala nyeri walaupun peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas. 

Gejala saraf biasanya terlihat seperti paresis, ataksis, gangguan koordinasi, hiperestesi dan kekejangan. Biasanya kucing mati dalam 1-8 minggu sesudah terlihat gejala-gejala jelas.

Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan histopatologis dan pemeriksaan laboratorium. Pada kasus-kasus klasik, diagnosa tidak sulit. Bila kucing di punksi maka dari ruang abdomen keluar cairan berlendir dan sebagian akan membeku bila kena udara luar. Secara histopatologi ditemukan lesi berbentuk granuloma dan biasanya nekrosa ditemukan pada serosa dan alat-alat tubuh.

Pemeriksaan laboratorium dengan tes imunoflouresensi indirek dilakukan untuk membuktikan adanya antibodi. Pada kucing yang secara klinis kelihatan sehat dapat ditemukan badan-badan penangkis. Titer yang sangat tinggi hanya terlihat pada kucing yang klinis menderita FIP.

Diagnos Banding
Penggumpalan cairan dalam rongga perut dan dada menimbulkan dugaan mengenai adanya gangguan jantung, tumor, piometra, sobek kandung kencing dan peritonitis oleh infeksi bakteri dan jamur.

Kelainan-kelainan pada mata selain pada FIP juga ditemukan pada toksoplasmosis dan leksosis. Gejala saraf ditemukan pada toksoplasmosis, infeksi mikotis, dan ensefalopati bakterial.

Pencegahan dan Pengobatan
Bila diagnosa FIP sudah ditentukan maka prognosanya sulit. Untuk pencegahan, vaksinasi belum ada. Kucing yang terinfeksi sebaiknya disingkirkan/musnahkan.

Jumat, 13 April 2018

Penyakit Respirasi Kompleks pada Kucing



Penyakit ini dikatakan kompleks karena kucing yang yang sakit selain sakit pernafasan juga ditemukan ikutan lainnya, seperti konjungtivitis, lakrimasi, salvias dan ulserasi oral.


Penyebab yang paling sering menyebabkan masalah seperti di atas adalah feline viral rhinotracheitis (FVR), feline calicivirus infection (FCV), feline pneumonitis (Chlamydia psittaci) dan Mycoplasma.

Etiologi
Infeksi saluran respirasi atas sekitar 40-45 % disebabkan oleh FVR dan FCV dan sisanya disebabkan oleh Chlamydia psittaci, Mycoplasma dan reovirus
.
Cara Penularan
Penularan penyakit umumnya melalui aerosol,  muntahan, pemeliharaan yang tercemar hewan sakit kemudian secara tidak langsung menularkan ke kucing sehat.

Masa inkubasi infeksi FVR dan FCV berkisar 2-6 hari, sedangkan pneumonitis 5-10 hari. Adanya stress yang terjadi pada hewan penderita kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya infeksi ikutan.

Gejala Klinis
Infeksi FVR ditandai dengan demam sampai 40,5°C, kucing sering bersin. Konjungtivitis dan rhinitis yang timbul didahului oleh leleran serous, kemudian berubah menjadi mukopurulen. Kucing tampak depresi dan anoreksia.

Pada kucing yang sakitnya parah ditemui ulseratif stomatitis yang berlangsung 5-10 hari dan bisa bertahan sampai 6 minggu.

Infeksi calicivirus memunculkan gejala yang sangat beragam. Galur virus calici yang predileksinya pada rongga mulut dan jaringan subepitel jaringan paru-paru terjadi ulserasi pada lidah, langit-langit menjadi keras dan nostril menimbulkan ulserasi.

Sedangkan infeksi pada paru-paru dapat menimbulkan oedema pulmonum atau pneumonia interstisialis.
Galur virus calici lainnya dapat menimbulkan “limping syndrome” yaitu menimbulkan gejala pincang, demam ringan, dan rasa nyeri pada sendi. Kucing yang diserang biasanya yang berumur 8-12 minggu.

Galur lainnya menimbulkan lymphocytic-plasmacytic gingivitis yang disertai dengan stomatitis, terjadinya demam, nafsu makan turun dan depresi.

Infeksi Chlamydia psittaci menimbulkan gejala yang menonjol berupa konjungtivitis, leleran mata serous atau mukopurulen.

Infeksi Mycoplasma bisa menyerang mata dan saluran respirasi bagian atas, yang ditandai dengan oedema yang parah pada konjungtiva dan rhinitis yang terjadi sifatnya kurang parah. Kejadian penyakit respirasi kompleks pada kucing jarang ditemukan kejadiannya pada hewan tua atau hewan yang telah diimunisasi dengan baik.

Diagnosa
Diagnosa penyakit berdasarkan tanda-tanda berupa bersin, konjungtivitis, rhinitis, lakrimasi, salivasi, ulkus mulut dan dispnoea.

Pada FVR cenderung menimbulkan gangguan pada konjungtiva dan saluran hidung, virus calici menyebabkan gangguan pada mukosa mulut dan saluran respirasi bagian bawah. Chlamydia menimbulkan konjungtivitis ringan yang kronis.

Diagnosa yang tepat terhadap penyakit ini dengan melakukan isolasi dan identifikasi agen penyebab.

Pencegahan dan Pengobatan
Pengobatan ditekankan untuk memperbaiki kondisi tubuh (terapi suportif). Pengobatan dengan antibiotika berspektrum luas misalnya pemberian tetrasiklin dapat melawan infeksi ikutan terhadap Chlamydia.

Untuk menghilangkan sekresi yang liat (tenacious) dapat dilakukan nebulisasi, atau pemberian tetes hidung ephedrine sulfat dalam larutan 0,25 % yang dikombinasikan dengan antibiotika mampu menurunkan leleran hidung.

Salep mata yang mengandung antibiotik dapat diberikan 5-6 kali sehari untuk mencegah iritasi kornea dari eksudat yang mongering.

Kucing yang menderita dispnoea perlu diberikan terapi oksigen dan apabila terjadi dehidrasi diberikan terapi cairan. Esofagotomi dan pencucian lambung pada kucing yang sakitnya parah dapat dilakukan untuk meringankan penyakit.

Antihistamin dapat diberikan per oral pada kucing dewasa maupun pada anak kucing diawal kejadian penyakit.

Pencegahan dilakukan dengan melaksanakan vaksinasi dengan vaksin FVR-FCV parenteral:
pada anak divaksin saat umur 3-4 minggu dan diulang 3-4 minggu kemudian sampai di atas 2 minggu.
Sedangkan kucing di atas 9 minggu dilakukan imunisasi langsung dan diulang 3 minggu kemudian. Ulangan selanjutnya dilakukan setiap tahun.

Vaksin tetes FVR-FCV, diteteskan langsung ke dalam kantung konjuntiva dan lubang hidung. Imunisasi di bawah umur 12 minggu biasanya menimbulkan bersin-bersin setelah 4-7 hari imunisasi.- Imunisasi diulang saat kucing berusia 12 minggu dan imunisasi selanjutnya dilakukan setiap tahun.

Vaksin lain yang sering digunakan yaitu kombinasi FVR-FCV dengan feline Panleukopenia, yang tersedia berbentuk aktif dan inaktif dan diberikan secara parenteral. Vaksin lain juga tersedia yaitu kombinasi vaksin Chlamydia-FVR-FCV-dan feline Panleukopenia.

Penyakit Pada Kucing



Selain anjing, kucing menjadi pilihan banyak orang sebagai hewan kesayangan. Selain penampilan yang lucu dan menggemaskan kucing juga tidak membutuhkan pemeliharaan yang sulit.

Kucing dapat dilatih untuk menjadi hewan peliharaan yang baik dan pintar, sebagai teman di rumah maupun saat-saat bepergian.

Sama dengan hewan peliharaan lainnya, perawatan kucing  harus bersih terutama kandang dan tempat makanan atau minumannya. Asupan gizi juga harus diperhatikan dengan baik untuk mendapatkan kucing yang selalu bersih dan sehat. Perawatan kesehatan sangat penting artinya untuk menjaga kucing agar terhindar dari segala penyakit

Namun demikian meskipun pemeliharaan baik, kucing kita sering kali terinfeksi penyakit karena kontak langsung dengan kucing sakit, misalnya saat kucing keluar bermain kontak dengan kucing liar yang sakit.

Kucing peliharaan di rumah juga dapat terjangkit suatu penyakit apabila kucing tersebut tidak lengkap vaksinasinya atau bahkan karena faktor lain, seperti kandang, makanan dan minuman yang kurang memadai.

Berikut beberapa penyakit yang sering menginfeksi kucing baik kucing peliharaan maupun kucing liar.

Penyakit Respirasi Kompleks
Penyakit ini dikatakan kompleks karena kucing yang yang sakit selain sakit pernafasan juga ditemukan ikutan lainnya, seperti konjungtivitis, lakrimasi, salvias dan ulserasi oral.

Penyebab yang paling sering menyebabkan masalah seperti di atas adalah feline viral rhinotracheitis (FVR), feline calicivirus infection (FCV), feline pneumonitis (Chlamydia psittaci) dan Mycoplasma.

Infeksi saluran respirasi atas sekitar 40-45 % disebabkan oleh FVR dan FCV dan sisanya disebabkan oleh Chlamydia psittaci, Mycoplasma dan reovirus

Penularan penyakit umumnya melalui aerosol,  muntahan, pemeliharaan yang tercemar hewan sakit kemudian secara tidak langsung menularkan ke kucing sehat.

Masa inkubasi infeksi FVR dan FCV berkisar 2-6 hari, sedangkan pneumonitis 5-10 hari. Adanya stress yang terjadi pada hewan penderita kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya infeksi ikutan.

Feline Leukemia (Feline Lymphosarcoma atau Lekosis)   
Yang dimaksud lekosis kucing adalah proliferasi ganas sistem hemopoietis pada kucing. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan terbatas. Lekosis kucing dan yang menginfeksi lembu sangat berguna sebagai model untuk mempelajari penyebab leukemia pada manusia.

Penyakit leukemia kucing disebabkan oleh virus, yang dikena dengan nama feline lekosis virus (FeLV) yang tergolong dalam keluarga (subfamily) retroviridae.
Pada kucing ditemukan dua kelompok retrovirus. Satu dari dua kelompok itu dapat menyebabkan lekosis. Kelompok kedua terdiri dari satu atau lebih retrovirus yang bersifat endogen (hidup laten dalam sel) dan xenotroop (dapat bereplikasi dalam sel biakan spesies lain dan tidak menimbulkan lekosis pada kucing.

Penyebaran virus FeLV tersebar melalui kontak. Kucing terinfeksi mengeluarkan virus melalui air liur. Lekosis kucing dapat dipindahkan pada kucing muda melalui infeksi hewan mati atau material yang telah disaring.

Lekosis ditemukan pada kucing semua umur, tetapi yang paling banyak ditemukan pada kucing berumur muda atau di bawah 5 tahun.

Panlekopeni pada Kucing
Panlekopeni kucing adalah infeksi virus yang menyerang kucing, baik kucing peliharaan maupun kucing liar.

Penyakit ini disebut juga Enteritis Pseudo-membranosa Feline Infectious Enteritis, Feline Distemper.Panlekopeni kucing adalah penyakit yang sangat menular terutama pada kucing-kucing muda dan secara klinis ditandai dengan lekopeni, muntah dan diare. Infeksi kuman-kuman sekunder menyebabkan penyakit bersifat lebih parah. Angka kematian penyakit ini sangat tinggi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari golongan parvovirus. Virus ini erat hubungannya dengan virus yang menyebabkan enteritis pada Mink.

Bila induk kucing imun menyusui anaknya maka anak kucing itu memperoleh kekebalan melalui air susu induknya. Selama 3-12 minggu anak kucing itu secara pasif kebal. Sesudah itu hingga umur kira-kira 6 bulan anak kucing lambat laun aktif tanpa memperlihatkan gejala penyakit secara klinis.

Infeksi umumnya terjadi melalui pernafasan dan alat digesti. Secara eksperimen kucing dapat ditulari melalui bermacam-macam cara. Virus terutama bereplikasi dalam sel-sel yang sedang mensintesa DNA secara aktif.

Replikasi virus sebagian besar terjadi dalam kelenjar imfe, limpa, sumsum tulang dan timus. Invasi virus dalam bagian tubuh ini menyebabkan limfo dan lekopeni. Sesudah replikasi virus memasuki dinding usus. Hal ini mengakibatkan degenerasi dan nekrosa epitel usus.

Kucing yang tertular menyebarkan virus melalui feses, urin, air liur pada stadium inkubasi dan klinis. Kucing yang sembuh juga mengeluarkan virus selama beberapa hari.

Penyakit Bersin       
Salah satu penyakit yang dapat menyerang kucing adalah penyakit bersin atau dikenal dengan nama Rhinotracheitis atau Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) adalah penyakit akut pada bagian muka jalan respirasi kucing.

Penyakit bersin kucing ini disebabkan oleh Herpesvirus golongan A. Virus ini termasuk virus DNA beruntai ganda, bersimetri ikosahedral dan mempunyai selubung protein.

Infeksi diduga terjadi per inhalasi. Virus bereplikasi dalam epitel jalan hawa muka, konjunktivita dan mengakibatkan nekrosa lokal.

Pengeluaran virus terjadi antara lain melalui sekret hidung, konjunktivita dan urin.Penularan dapat berjangkit dalam satu koloni kucing secara laten.

Hewan yang sembuh masih dapat  terinfeksi virus ini. Perubahan lingkungan diduga dapat mengaktifkan infeksi. Kucing dapat ditulari lewat berbagai jalan antara lain intranasal.

Peritonitis Menular
Peritonitis menular atau Feline Infectious Peritonitis (FIP) dalam bentuk klasik adalah penyakit yang berjalan progresif dan umumnya fatal pada kucing.

Pada kucing yang terinfeksi penyakit ini ditandai dengan peritonitis yang bersifat sero-fibrinosa atau dalam rongga perut tertimbun cairan yang banyaknya bervariasi dan mengandung banyak fibrin.

Penyakit ini baru dikenal dalam tahun 1960-an dan pertama kali di temukan di Amerika Serikat. Dalam tahun-tahun berikutnya penyakit ini ditemukan di banyak negara Eropa.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam famili Coronaviridae. Virus ini berbentuk pleomorfik dan berdiameter 100 nm. Virus FIP erat hubungannya dengan coronavirus anjing dan coronavirus 229E pada manusia.

Infeksi virus FIP hanya ditemukan pada kucing dan umumnya ditemukan secara sporadik. Mengenai cara infeksi terjadi sesungguhnya belum jelas. Virus ditemukan dalam darah dan eksudat kucing sakit.

Sebagian besar infeksi berlangsung secara subklinis.  Pada kucing yang terinfeksi ditemukan antibodi spesifik dengan titer tinggi, di samping itu kucing memperlihatkan hipergammaglobulinemia. Pada penyakit ini mungkin kompleks antigen-antibodi dan komplemen memegang peranan.

Penyakit mulai dengan gejala-gejala tidak khas, kehilangan nafsu makan, lesu, suhu tinggi dan kemudian terjadi asites.

Palpasi abdomen tidak menimbulkan gejala nyeri walaupun peritonitis telah berkembang. Sekali-kali terjadi pleuritis dengan pembentukan cairan dalam toraks sehingga kucing sesak nafas.

Gejala saraf biasanya terlihat seperti paresis, ataksis, gangguan koordinasi, hiperestesi dan kekejangan. Biasanya kucing mati dalam 1-8 minggu sesudah terlihat gejala-gejala jelas.